Secara etimologi kata mudhtharib
ini diambil dari bahasa Arab, yakni berupa isim fa’il, idhtharaba-yadhtharibu-idhtihorab-fahuwa
mudhtaribun. Seperti yang dituturkan Mahmud at-Thahan, al-idhtirab
(bentuk mashdar dari idhtaraba), berarti cacatnya suatu perkara dan
rusak susunannya. Mulanya, pengertian ini diambil dari ‘goncangan ombak’ di
lautan (idhtirab al-mauj). Memang, ombak di lautan selalu goncang,
seakan-akan antara yang satu dengan lainnya saling memukul. Kata ini juga
berarti ‘goyang’ dan getar. Selain itu, kata ini juga berarti bimbang, bingung,
dan ragu. Deretan arti ini bisa dipahami, karena biasanya orang yang jiwanya
sedang bimbang, bisa menimbulkan keraguan dan berujung pada kebingungan. Kegoncangan suatu
hadits karena terjadi kontra antara satu hadits dengan hadits yang lain,
berkualitas sama dan tidak dapat dipecahkan secara ilmiah.
Sedangkan hadits Mudhtharib secara terminologi memiliki
banyak pengertian, yaitu:
1.
هو ماو
قعت المخا لفة فيه با الا بد ال على و جه يحصل فيه التدا فع مع عد م تصر المرجح
“Hadits
yang mukhalafahnya (menyalahi hadits lain), terjadi dengan pergantian pada satu
segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan.
2.
ما ر و
ى على ﺃو جه مجه مجتلفة متدا فعة على التساوى فى الا حتلا ف بحيث لم يتر جح احدا هما
على اﻷ حرى ولم يمكن الجمع بينهما من راو واحدبا ن رواه مرة على وجه احر على و جه
مخالف له او رواه اكثر بان يضطرب فيه اويان فاكثر
“
Hadits yang diriwayatkan atas beberapa cara yang berlainan yang satu menolak
yang lain, sedang dia sederajat dalam perbedaannya dan tidak kuat salah satunya
atas yang lain dan mungkin dikumpulkan antara perawi yang satu dengan lain,
karena sekali ia meriwayatkan begini dan sekali ia meriwayatkan oleh lebih dari
seorang dan terjadi perbuatan-perbuatan antara orang perawi itu ataupun lebih.”
3. ما اختلفت وجوه روايته سواء كان
راوي هده الوجوه واحدا أواكثر بشرط أن لا يترجح بعضها بعضا
“Hadits
Mudhtharib ialah hadits yang berlawanan cara periawayatannya, baik
perawi-perawi cara itu, seorang ataupun banyak dengan syarat sebagainya tidak lebih
kuat dari yang sebagian.
4.
الحد
يث الضطر ب هو الحد يث الذ ى ير و ى من قبل راو واجد اواكثر على اوجه مختلفة
متساوية ولا مر جح بينهما و لا يمكن الجمع
hadith
mudhtharib adalah haditht yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dengan
beberapa redaksi yang berbeda dan dengan kualitas yang sama, sehingga tidak ada
yang dapat ditinggalkan dan tidak dapat dikompromikan.
5.
المضطرب : هو الذي يرو ى على أوجه مختلفة
متقاربة
Maksudnya: Mudthorib adalah hadits yang diriwayatkan dengan bentuk yang berbeda-beda padahal
dari satu perawi (yang meriwayatkan) dua atau lebih, atau dari dua perawi atau
lebih yang berdekatan lafaz dan maknanya (dan tidak bisa ditarjih)”
Adapun
dalam ilmu hadits, hadits ini didefinisikan oleh sebagian ulama dengan “Hadits
yang diriwayatkan dari berbagai bentuk yang berbeda-beda, yang semuanya sama
kuatnya”.
Karena
titik tolak term hadith ini adalah adanya kontradiktif (ikhtilaf), maka
ia tidak akan bisa dilepaskan dari hadith yang lain. Gambaran hadith idhtirab
ini adalah, misalnya seorang rawi meriwayatkan sebuah hadith dengan redaksi
tertentu. Ternyata pada kesempatan lain, rawi itu meriwayatkan hadith itu
dengan redaksi yang berbeda. Atau, ada sebuah hadith yang disampaikan oleh
beberapa rawi dengan periwayatan yang berbeda-beda.
Referensi:
Abdul Majid Khan. Ulumul Hadits, (Jakarta : Amza
2008).
Al-Imam
an-Nawawy, Irsyaduthullab al-Haqa’iq ila Ma’rifatisunanikhair al-Khala’iq,
(Beirut: Darul Yamamah, tth).
Al-Suyuthi, Tadrib Al-Rawi fi syarh Taqrib Al-Nawawi,
Jilid I, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1988).
Atabik
Ali dan Ahmad Zuhdi Mahdar, Kamus al-‘Ashri, (Yogyakarta: Mukti Karya
Grafindo, tth), cet-4.
Dr.
Mahmud ath-Thahan, Taisir Mustalah al-Hadis, (Surabaya: Bungkul Indah,
tth).
Dr.
Muhammad Adibi Shalih, Lamahat fi Ushul al-Hadits, (Beirut: al-Maktabah
al-Islamy, 1999), cet. 3.
Munzier Suparta, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008).
Team Yayasan Bina Ukhuwah, Modul Musthalah Hadits
Program Tatsqif Ma’had Bina Ukhuwah, (Karawang: Yayasan Bina Ukhuwah,tt).