Adapun mengenai ketuhanan, bagi Al-Kindi Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya Tuhan adalah Maha Esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada zat lain yang menyamainya dalam segala aspek. Ia tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan.
Di dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap oleh panca indera. Benda-benda itu merupakan juz'iah (particulars). Yang penting bagi filsafat, kata Al-Kindi bukan juz'iah yang tidak terhingga banyaknya itu, tetapi hakikat yang terdapat dalam juz'iah itu yaitu kulliah universal). Tiap-tiap benda mempunyai dua hakikat. Hakikat sebagai Juz'i (حقيقة بزئية) dan ini disebut Aniah (الأنية) dan hakikat sebagai Ulli (حقيقة كلية) dan ini disebut Mahiah (الماهية), yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan species.[1]
Tentang hakikat Tuhan, al-kitab mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud haq (sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama-lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada selama-lamanya. Wujud lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan dengan perantaraan-Nya.[2]
2. Jiwa universal (النفس الكلية)
3. Materi pertama (الهيولى الأولى)
4. Ruang absolut (المكان المطلق)
5. Masa absolut (الزمان المطلق)
Menurut Al-Razi', dua dari lima yang kekal itu hidup dari aktif, yaitu Tuhan dan jiwa atau roh universal. Satu daripadanya tidak hidup dan pasif, yaitu materi, dua lainnya tidak hidup tidak aktif dan tidak pula pasif yakni ruang dan masa.
Allah Swt adalah Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam ini, alam diciptakan Allah Swt bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang elah ada (الإيجادمن شئ). Karena itu, alam semestinya tidak kekal, sekalipun materi pertama kekal, sebab pencipaan disini dalam arti disusun dari bahan yang telah ada.[3]
Pokok-pokok pendirian Al-Razi dalam pemikiran ini adalah pertama, alam kedua dan ketiga kekalan gerak. Ia menolak mereka yang berpendapat bahwa alam adalah prinsip gerak terutama Aristoteles dan para pengulasnya, seperti Philoponas, Alexander dari Aphrodisias, dan Porpphyry. Ia menolak ketidakperluan pembuktikan keberadaan alam, karena ia tidak terbukti dengan sendirinya. Jika alam itu satu dan sama, maka kenapa ia dapat menimulkan berbagai akibat pada batu dan manusia. Jika alam menembus ubuh, bukanlah ini berarti bahwa dua benda dapat menempati satu empat yang sama? Mengapa pengikut-pengikut pendapat itu mengatakan bahw alam ini mati, tidak dapat dirasakan, lemah, bodoh, terkekang dan pada saat yang sama mereka menganggap bahwa alam mempunyai nilai yang sama dengan Tuhan. Dalam menolak Porhphyry, ia mengatakan anda setuju bahwa adanya alam karena adanya sesuatu, bahkan kebetulan belaka, kemudian mengapa anda mengatakan bahwa alam itu mati dan bukannya sebagai suatu wakil yang hidup.[4]
Adapun tentang ketuhanan, Ikhwan Al-Shafa' melandasi pemikirannya kepada bilangan. Menurut mereka ilmu bilangan adalah lidah yangmempercakapkan tentang tauhid, al-tanzih dan meniadakan sifat dan tasybih, serta dapat menolak sikap orang yang mengingkari ke-Esa-an Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan tentang angka membawa kepada pengakuan tentang keesaan Tuhan, karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semuanya. Selanjutnya mereka katakan, angka satu sebelum angka dua, dan dalam angka dua terkandung pengertian kesatuan. Dengan istilah lain, angka satu adalah angka permulaan dan ia lebih dahulu dari angka dua dan lainnya. Karena itu keutamaan terletak pada yang dahulu, yakni angka satu. Sedangkan bahwa Yang Esa (Tuhan) lebih dahulu dari lainnya seperti dahulunya angka satu dari angka lain.
Ikhwan Al-Shafa' juga melakukan al-tanziah, meniadakan sifat dan tasyibih kepada Tuhan. Tuhan adalah pencipta segala yang ada dengan cara Al-Faidh (emanasi) dan memberi bentuk,. Tanpa waktu dan tempat, cukup dengan firman-ya: Kun Ga Kan. Maka adalah segala yang dikehendaki-Nya ia berada pada segala sesuatu tanpa berbaur dan bercampur, seperti adanya anka satu dalam tiap-tiap bilangan. Sebagaimana bilangan satu tidak dapat dibagi dan tidak ada yang menyamai dan menyerupai-Nya. Tetapi, ia jadkan fitrah manusia untuk dapat mengenal-Nya tanpa belajar.[5]
Adapun masalah ketuhanan, Al-Farabi menggunakan pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni Al-Maujud Al-Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Konsep ini tidak bertentangan dengan keesaan dalam ajaran Islam. Dalam pembuktian adanya Tuhan, Al-Farabi mengemukakan dalil wajib dan mukmin al-wujud. Menurutnya segala yang ada ini hanya dua kemungkinan dan tidak ada aternatif yang ketiga.[6]
Persoalan-persoalan filsafat telah dibahas oleh filosof sebelumnya, baik dari Yunani atau yang lainnya, meski pemecahan yang dilakukan mereka saling berlawanan. Al-Farabi dalam usaha memecahkan persoalan tersebut tidak terlepas murni dari pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh mereka itu. Diantara persoalan itu adalah Esa dan berbilang.[7]
Ibnu Miskawaih tidak memberikan perhatian besar terhadap masalah ketuhanan, karena pada masanya tidak banyak lagi diperbicangkan masalah tersebut. Dengan demikian pemikirannya tidak banyak berbeda dengan pemikiran filosof sebelumnya, terutama Al-Farabi dan Al-Kindi. Hal ini tampak bahwa Tuhan menurut Ibn Miskwaih adalah zat yang tidak berjisim, azali dan pencpta. Tuhan Esa dalam aspek, Tuhan tidak terbagi-bagi karena tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan-Nya. Tuhan ada tanpa diadakan dan adanya tidak tergantung kepad ayang lain, sedangka yang lain membutuhkan-Nya.[8]
Untuk membuktikan adanya Tuhan pencipta dari satu segi dapat dikatakan mudah, tetapi dari segi lain dapat dikatakan sukar. Membuktikan adanya Tuhan pencipta adalah mudah, karena kebenaran ada-Nya telah terbukti pada dirinya sendiri dengan amat jelas. Tetapi orang yang berusaha keras untuk memperoleh bukti ada-Nya, sabar menghadapi berbagai macam kesukaran, pasti akhirnya akan sampai juga akan diperoleh bukti-bukti yang menyakinkan tentang kebenaran ada-nya.[9]
Berkaitan dengan metafisika, Ibn Sina juga membicarakan sifat segala sifat lain,. Walaupun esensi (ماهية, quaiddity), sendiri. Esensi, dalam paham Ibn Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan kalu dikatakan bahwa ibn sina telah terlebih dahulu mengajukan filsafat wujudiah atau existensialism dari filosof-filosof lain.[10]
Yang membicarakan tentang wujud dan hakikat, pertalian jiwa dengan badan, dan kebadian jiwa. Hanya metafisika yang akan dibicarakan khususnya yang mengenai dalil-dalil wujud jiwa.
Pembuktian wujud jiwa yang dikemukakan oleh Ibnu Sina merupakan pembuktian yang lebih kuat, bila dibandingkan dengan pembuktian yang telah diusahakan. Oleh ahli pikir sebelumnya pembuktian wujud jiwa ini ibn sina mengedepankan 4 dalil yaitu:
1. Dalil psiko-fisik
2. Dalil aku dan kesatuan fenomena kejiawaan
3. Dalil kelagsungan (kontinuitas)
4. Dalil manusia terbang atau manusia melayang-layang di udara.[11]
g. Al-Ghazali
Lain halnya dengan lapangan metafisika (ketuhanan), Al-Ghazali memberikan reaksi keras terhadap Neo-Platonisme Islam, menurutnya banyak sekali terdapat kesalahan filosof, karena mereka tidak teliti seperti halnya dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu Al-Ghazali mengencam secara langsung tokoh Neo-Platonisme musim (Al-Farabi dan Ibn Sina), dan secara tidak langsung kepada Aristoteles, guru mereka. Menurut Al-Ghazali sebagaimana dikemukakannya dalam bukunya Tahaful Al-Falasifah, para pemikir besar tersebut ingin menanggalkan keyakinan-keyakinan Islam dan mengabaikan dasar-dasar pemujaan dengan mengangap sebagai tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.[12]
Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani diantaranya juga Ibn Sina c.s. dalam dua puluh masalah. Diantaranya yang terpenting ialah:
Al-Ghazali meyerang dalil-dalil filsafat (Aristotoles) tentang azalinya alam dan dunia. Disini Al-Ghazali berpendapat bahwa alam (dunia) berasal dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh Tuhan.
Al-Ghazali menyerang kaum filsafat (Aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, ia berpendapat bahwa soal keabdian alam itu terserah kepada Tuhan semata-mata. Mungkin saja alam itu terus menerus tanpa akhir andai kata Tuhan menghendakinya. Akan tetapi, bukanlah suatu kepastian harus adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri diluar iradat Tuhan.
Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja, tetapi tidak menegetahui soal-soal yang kecil (juzizat)
Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat semata-mata, dan mustahil ada penyelewengan dari hukum itu. Bagi
Al-Ghazali segala peristiwa yang seupa dengan hukum sebab dan akibat itu hanyalah kebiasaan (adat) semata-mata, dan bukan hukum kepastian. Dalam hal ini jelas Al-Ghazali menyokong pendapat Ijraraul-A'dat dari Al-Asy'ari.[13]
[1] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002). Hal. 19
[2] Dra. H.A Mustofa. Filsafat Islam, (Bandung CV. Pustaka Setia, 1997). Hal. 109
[3] Drs. Hasyim Syah Nasution, Hal. 26
[4]Drs. H. Mustofa, Filsafat Islam, Hal. 118
[5] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 48
[6] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 35
[7] Drs. H.A. Mustofa, Hal. 132
[8] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 58
[9] Drs. H.A. Mustofa, Hal. 170
[10] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 69
[11]Drs. H.A. Mustofa, Hal. 203
[12] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 83
[13] Drs. H.A. Mustofa, Hal. 228
0 comments: