Filosof Islam Tentang Metafisika Di Dunia Islam Barat

Posted by Anonymous Wednesday, May 12, 2010

Ibnu Bajjah

Adapun pendapatnya tentang logika dan metafisika, boleh dikatakan hampir sama dengan pemikiran Al-Farabi. Menurut Ibn Bajjah bahwa segala yang maujud terbagi dua brgerak dan yang tidak bergerak. Yang bergerak itu adalah materi yang sifatnya terbatas. Dia begerak dengan gerakan yang bersifat azali. Gerakan ini tidak mungkin dari zatnya sendiri, karena dia terbatas. Tetapi sebab gerakan berasal dari kekuatan yang tidak terbatas, atau wujud yaitu akal. Jisim bergerak dengan pengaruh dan luar zatmnya. Bahwa akal memberikan gerak kepada jisim. Jiwa mengetahui antara jisim dan akal ia bergerak dengan zatnya sendiri.[1]

Kesimpulannya, gerakan alam ini-jisim yang terbatas digerakkan oleh 'aql (bukan berasal dari substansi alam sendiri). Sedangkan yang tidak bergerak ialah 'aql, ia menggerakkan alam dan ia sendiri tidak bergerak. 'aql inilah yang disebut dengan Allah Swt ('qal, 'aqil dan ma'aqil,) sebagai yang dikemukakan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina sebelumnya.[2]
Ibn Thufa'il

Sosok Hayy yang digambarkan dalam romannya Ibnu Thufail menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan keseriusan menggunakan akal untuk mengamati keadaan yang mengitari, akan merupakan jalan yang mengantar seseornag mengetahui Tuhan. Tentu saja, ajakan semacam ini seiring dengan kemauan Al-Qur'an. Bagi thufa'il,d alil adanya Allah Swt adalah gerak alam, sesuatu yang bergerak tidak mungkin terjadi sendiri tanpa penggerak yang berada di luar alam, dan berbeda dengan yang digerakkan. Penggerak itu adalah Allah Swt dalil gerak alam untuk membuktikan adanya Allah Swt semacam ini sudah dikenal luas dikalangan filosof Islam yang diambil dari pemikiran Aristoteles.[3]

Gerak alam ini menjadi bukti tentang adanya Allah Swt, baik bagi orang yang menyakini alam baharu maupun bagi orang yang menyakini alam kodim. Bagi orang yang menyakini alam baharu (hadits), berarti alam ini sebelimnya tidak ada, kemudian menjadi ada. Untuk menjadi ada mustahil dirinya sendiri mengadakan. Oleh karena itu, bmesti ada penciptanya, pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada, yang disebutnya dengan alah sementara itu bagi orang yang menyakini alam kodim, alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada-gerak alam ini kodim, tidak berawal dan tidak berakhir. Karena zaman tidak mendahuluinya arti kata geraka ini tidak didahului oleh diam. Adanya ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak (Allah Swt).[4]

Ibn Rusyd

Dalam masalah ketuhanan Ibn Rusyd berpendapat bahwa Allah Swt adalah penggerak pertama (Muharrik Al-Awwal). Sifat positif yang dapat diberikan kepada alah aialah "akal", dan "naqqul". Wujud Allah Swt ialah Esa-Nya Wujud dan Ke-Esa-An tidak berbeda dari zat-Nya.
Konsepsi Ibn Rusyd tentang ketuhanan jelas sekali merupakan pengaruh Aristoteles, Potinus, Al-Farabi dan Ibn Sina, disamping keyakinan agama Islam yang dipeluknya, mensiasati Tuhan dengan Esa merupakan ajaran Islam, tetapi menanamkan Tuhan sebagai penggerak pertama, tidak pernah dijumpai dalam pemahaman Islam sebelumnya, hanya dijumpai dalam filsafat Aristoteles dan Plotinus, Al-Farabi dan Ibn Sina.

Dalam pembuktian adanya Tuhan, golongan Hasywiyah, Shufiah, Mu'tazilah, Asy'ariah dan Falasifah, masing-masing golongan tersebut mempunyai keyakinan yang berbeda satu sama lainnya dan menggunakan ta'wil dalam mengartikan kata-kata Syar'i, sesuai dengan kepercayaan mereka. Golongan Hasywiyah berpendapat bahwa cara mengenal Tuhan adalah melalui sama (pendengaran) saja, bukan melalui akal. Mereka berpegang pada alhir kata-kata Al-Qur'an tanpa menggunakan ta'wil, Ibn Rusyd menolak jalan pikiran yang demikian. Katanya: Islam mengajak kita untuk memperhatikan alam maujud ini dengan akal pikiran, seperti yang terdapat pada Surah Al-Hasyr ayat 2 yang menunjukkan atas wajib menggunakan Qiyas Syar'i dan Qiyas Aqli (Syllogisme) dan sebagainya.[5]

[1] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 98
[2] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Hal. 192
[3] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 110
[4] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Hal, 212
[5] Dr. Hasyim Syah Nasution, M.A. Hal. 117

0 comments:

Post a Comment

Installed by CahayaBiru.com