Abu al-Alla’ al-Ma’arry

Posted by Gratis Makalah Thursday, March 29, 2012


Ahmad bin Abdullah bin Sulaiman bin Muhamamd al-Tanawakhi (dinisbatkan kepada Tanawakh, suku Yaman), sedangkan al-Ma’arry (dinisbatkan kepada Ma’arrah an-Nu’man).[1] Dia adalah seorang sastrawan, filosofi, penulis serta pengarang. Dia adalah seorang sastrawan, filosofi, penulis serta pengarang. Dia berasal dari sanak keluarga yang mempunyai kemuliaan, kedudukan, kekayaan, dan hubungan dengan sastrawan dan pengadilan (pemerintahan). Ayahnya adalah seorang hakim dan ibunya dari keluarga Sabikah (keluarga Aleppo yang terkenal). Al-Ma’arry tertimpa penyakit cacar pada usia tiga tahun sehingga salah satu matanya buta dan kemudian terkena cacar untuk yang kedua kalinya. Ketika berumur enam tahun, kedua matanya buta. 
Dalam hal belajar, di samping berguru kepada ayahnya sendiri, al-Ma’arry juga berguru kepada ulama-ulama daerah ma’arrah. Kemudian ia meneruskan perjalanan untuk mencari ilmu ke kota-kota lain yang menjadi pusat kebudayaan, seperti Antakiyah,[2] Tripoli,[3] al-Ladhikiyah[4], dan Aleppo.[5] Ketika kembali ke kota asalnya, ia berumur dua puluh tahun. Ia sudah matang dalam hal keilmuan dan kebudayaannya, bekerja dengan cara membuat syi’ir, dan menjalin hubungan dengan golongan pembesar yang ada pada massanya. Ia pun kemudian merasa puas setelah bergabung dengan mereka, dan mendapat harta wakaf yang bernilai kurang lebih tiga puluh dinar yang dikhususkan untuk dirinya.
Setelah itu, Abu al-Alla’ pergi ke kota Islam, Baghdad, pada tahun 378 H, suatu perjalanan yang panjang, memakan waktu yang lama. Ia sampai di Baghdad pada tahun 399 H. Ia menjalin hubungan dengan pemuda-pemuda Baghdad, ia sangat dihormati karena mereka sudah tahu sebelumnya ahwa ia seorang terkemuka (agung). Namun demikian, ia juga tidak lepas dari perbuatan jahat orang lain, yaitu dari orang-orang yang mempunyai sifat dengki dihatinya. Pada sat berada di majlis Syarif al-Murtadho, ia merasa terhina. Ketika itu Syarif al-Murtadho menyerang/menuduh al-Mutanabbi dan al-Ma'arry telah melakukan pembelaan dengan melontarkan sindiran-sindiran halus. Kemudian ia diusir keluar dari majelis dengan ditarik paksa. Kejadian itu terus membekas di dalam hatinya. Akhirnya ia kembali ke tanah airnya, ditambah dengan beberapa sebab yang lain seperti ibunya sakit. Ia kembali ke Ma’arrah Nu’man dan meninggalkan kota Baghdad pada tahun 400 H.
Al-Ma'arry kembali ke tanah air dan tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kabar itu telah mengguncang dirinya, dia sangat menyesal karena meninggalkan Baghdad sudah terlambat (ibunya sudah meninggal dunia). Maka dia mengasingkan diri, hidup cukup dengan sedikit harta yang ditinggalkan untuknya dan mengharamkan dirinya memakan daging apa saja yang dihasilkan dari hewan/telurnya, menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan, menghabiskan umurnya dengan mengarang, belajar dan melantunkan syi’ir yang bisa menjamin hidupnya. Hidup dengan sengsara dan untuk beribadah, taat dan menjauhkan diri dari kemaksiatan, dan menamai dirinya “Rahin al-Mahbasin” (yang buta dan selalu ditahan). Bahkan ia menjauhkan dari sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan kehakiman, seperti menjadi perantara bagi keluarga Lada ibn Muradas yang berdomisili di Aleppo. Abu al-‘Alla’ meninggal dunia pada tahun 449 H dan dimakamkan di kota (daerah)nya sendiri sebagai orang yang agung dan mulia.
Dalam kitab “al-Manhaj al-Jadid fi al-Adab al-‘Arabiy: disebutkan bahwa setelah kematian ibunya, al-Ma'arry menjadi seorang yang zuhud, tidak makan daging dan apa saja yang diasilkan dari hewan seperti susu, telur, madu, dan juga tidak memakai pakaian yang bagus dan tidak keluar rumah sampai ia meninggal dunia.[6]
Dalam kitab Masyahir Syu’ara, disebutkan bahwa pada akhir hayatnya, tiga hari sebelum meninggal dunia, al-Ma'arry sakit dan meninggal pada hari Jum'at siang tanggal 20 Mei 1058 M.[7]
-          al-Ma'arry mempunyai kepribadian yang besar dan agung bagi kehidupan sastra dan pemikiran di Arab, yaitu sebagai sastrawan, filosof, disegani pendapatnya di kalangan masyarakat, kehidupan seperti falsafah khusus yang berbeda. Pendapatnya dalam sastra dan bahasa, penyair-penyair dan ulama-ulama yang mempunyai kepribadian yang terpandang.
Yang memunculkan motivasi al-Ma'arry: “Luzzum ma la yalzam” (cet. India dan Mesir), “siqth al-zind” (Mesir), “Dhou’u al-siqth”, yaitu syarah al-Ma'arry atas kitab “Siqith”, dia mencampur: syarah dan kritik atas al-Buhturi dan mengagumi Ahmad dalam “Syarah syi’ir al-mutanabbi” (masih berupa naskah tulisan), “Risalah al-gufron” (cet. Mesir), “Risalah al-malaikat” (cet. Damaskus), “Majmu at-al-Rasail” (cet. Kambardaj), “zujru al-nabih” (cet. Damaskus), selain itu masih banyak dari syi’ir dan prosa.
-          Di antara karangan tentang al-Ma'arry: “Meneliti Puncak Martabat Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry” oleh Yusuf al-Bdi'i (cet. Damaskus), “Kejujuran dan Penelitian dalam Menolak Kedholiman tentang Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry” oleh ibn al-Adim, “Abu al-‘Alla’” oleh Abu Aziz al-Maimuni (cet. Mesir), “Abu al-‘Alla’ Seorang Kritikus Muda” oleh Zaky al-Mahasini (cet. Mesir), “Abu al-‘Alla’ al-ma’arrryi” oleh Sami al-Kayali, “Dzikra Abi al-‘Alla’”, “Abi al-‘Alla’ di Rutan” oleh Toha Husain, “Abu al-‘Alla’ al-Ma'arry” oleh Ahmad Taymur, “Kembalinya Abi al-‘Alla’” oleh Abas al-‘Aqqad, “Hakim al-Ma’arrah” oleh DR. Umar Farukh (Beirut), “Kritik dan Bahasa dalam Risalah al-Gufron” oleh DR. Majid al-Tarablisi (Damaskus), dan “al-Ghufron” oleh DR.Bint al-Syathi (Darul Ma’arif).
-          Lihat: “Ta’arif al-Qadamu’ Abi al-‘Alla’” (cet. Mesir), “Mahraj Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry” (cet. Damaskus), dan “Mu’jam al-Udaba” 1: 181, “Amba’ al-Ruwat” 1: 46, “Tatimmah al-Yatimah 90”, “Wafiyat al-A’yan” 1: 94, dan “Ma’ahid al-Tansis” 1: 136.


[1] Ma’arrah Nu’man: kota di Suriyah, Luis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughat wa al-A’lam (Libanon: Dar al-Fikr, cet. XX, 1975), hlm. 674.
[2] Antakiyah: Sekolah yang mempelajari tafsir al-Kitab, juga nama sebuah kota, al-Munjid, hlm. 80.
[3] Tripoli: kota di sebelah Utara Libanon, lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 435.
[4] ladhikiyah: kota dan pelabuhan di Suriyah. Lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 607.
[5] Aleppo: kota di sebelah Utara Suriyah. Lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 240.
[6] Umar Faruq, al-Manhaj al-Jadid fi al-Adab al-‘Araby, (Beirut: 1979), juz I, hlm. 278.
[7] Abd. Ali  dan Ali  Naim, Masyahiru Syu’ara’, (Beirut: Dar al-Kutuf, t.t.), hlm. 163.

0 comments:

Post a Comment

Installed by CahayaBiru.com