Ahmad bin Abdullah bin Sulaiman bin Muhamamd
al-Tanawakhi (dinisbatkan kepada Tanawakh, suku Yaman), sedangkan al-Ma’arry
(dinisbatkan kepada Ma’arrah an-Nu’man).[1]
Dia adalah seorang sastrawan, filosofi, penulis serta pengarang. Dia adalah
seorang sastrawan, filosofi, penulis serta pengarang. Dia berasal dari sanak
keluarga yang mempunyai kemuliaan, kedudukan, kekayaan, dan hubungan dengan
sastrawan dan pengadilan (pemerintahan). Ayahnya adalah seorang hakim dan
ibunya dari keluarga Sabikah (keluarga Aleppo
yang terkenal). Al-Ma’arry tertimpa penyakit cacar pada usia tiga tahun
sehingga salah satu matanya buta dan kemudian terkena cacar untuk yang kedua
kalinya. Ketika berumur enam tahun, kedua matanya buta.
Dalam hal belajar, di samping berguru
kepada ayahnya sendiri, al-Ma’arry juga berguru kepada ulama-ulama daerah
ma’arrah. Kemudian ia meneruskan perjalanan untuk mencari ilmu ke kota-kota
lain yang menjadi pusat kebudayaan, seperti Antakiyah,[2] Tripoli,[3]
al-Ladhikiyah[4],
dan Aleppo.[5]
Ketika kembali ke kota
asalnya, ia berumur dua puluh tahun. Ia sudah matang dalam hal keilmuan dan
kebudayaannya, bekerja dengan cara membuat syi’ir, dan menjalin hubungan dengan
golongan pembesar yang ada pada massanya. Ia pun kemudian merasa puas setelah
bergabung dengan mereka, dan mendapat harta wakaf yang bernilai kurang lebih
tiga puluh dinar yang dikhususkan untuk dirinya.
Setelah itu, Abu al-Alla’ pergi ke kota Islam, Baghdad,
pada tahun 378 H, suatu perjalanan yang panjang, memakan waktu yang lama. Ia
sampai di Baghdad pada tahun 399 H. Ia menjalin
hubungan dengan pemuda-pemuda Baghdad,
ia sangat dihormati karena mereka sudah tahu sebelumnya ahwa ia seorang
terkemuka (agung). Namun demikian, ia juga tidak lepas dari perbuatan jahat
orang lain, yaitu dari orang-orang yang mempunyai sifat dengki dihatinya. Pada
sat berada di majlis Syarif al-Murtadho, ia merasa terhina. Ketika itu Syarif
al-Murtadho menyerang/menuduh al-Mutanabbi dan al-Ma'arry telah melakukan
pembelaan dengan melontarkan sindiran-sindiran halus. Kemudian ia diusir keluar
dari majelis dengan ditarik paksa. Kejadian itu terus membekas di dalam
hatinya. Akhirnya ia kembali ke tanah airnya, ditambah dengan beberapa sebab
yang lain seperti ibunya sakit. Ia kembali ke Ma’arrah Nu’man dan meninggalkan kota Baghdad
pada tahun 400 H.
Al-Ma'arry kembali ke tanah air dan tahu
bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kabar itu telah mengguncang dirinya, dia
sangat menyesal karena meninggalkan Baghdad
sudah terlambat (ibunya sudah meninggal dunia). Maka dia mengasingkan diri,
hidup cukup dengan sedikit harta yang ditinggalkan untuknya dan mengharamkan
dirinya memakan daging apa saja yang dihasilkan dari hewan/telurnya, menjadikan
rumahnya sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan, menghabiskan umurnya
dengan mengarang, belajar dan melantunkan syi’ir yang bisa menjamin hidupnya.
Hidup dengan sengsara dan untuk beribadah, taat dan menjauhkan diri dari
kemaksiatan, dan menamai dirinya “Rahin al-Mahbasin” (yang buta dan
selalu ditahan). Bahkan ia menjauhkan dari sesuatu yang berhubungan dengan
manusia dan kehakiman, seperti menjadi perantara bagi keluarga Lada ibn Muradas
yang berdomisili di Aleppo.
Abu al-‘Alla’ meninggal dunia pada tahun 449 H dan dimakamkan di kota (daerah)nya sendiri
sebagai orang yang agung dan mulia.
Dalam kitab “al-Manhaj al-Jadid fi
al-Adab al-‘Arabiy: disebutkan bahwa setelah kematian ibunya, al-Ma'arry menjadi
seorang yang zuhud, tidak makan daging dan apa saja yang diasilkan dari hewan
seperti susu, telur, madu, dan juga tidak memakai pakaian yang bagus dan tidak
keluar rumah sampai ia meninggal dunia.[6]
Dalam kitab Masyahir Syu’ara, disebutkan
bahwa pada akhir hayatnya, tiga hari sebelum meninggal dunia, al-Ma'arry sakit
dan meninggal pada hari Jum'at siang tanggal 20 Mei 1058 M.[7]
-
al-Ma'arry mempunyai
kepribadian yang besar dan agung bagi kehidupan sastra dan pemikiran di Arab,
yaitu sebagai sastrawan, filosof, disegani pendapatnya di kalangan masyarakat,
kehidupan seperti falsafah khusus yang berbeda. Pendapatnya dalam sastra dan
bahasa, penyair-penyair dan ulama-ulama yang mempunyai kepribadian yang
terpandang.
Yang memunculkan motivasi
al-Ma'arry: “Luzzum ma la yalzam” (cet. India dan Mesir), “siqth al-zind”
(Mesir), “Dhou’u al-siqth”, yaitu syarah al-Ma'arry atas kitab “Siqith”,
dia mencampur: syarah dan kritik atas al-Buhturi dan mengagumi Ahmad dalam
“Syarah syi’ir al-mutanabbi” (masih berupa naskah tulisan), “Risalah
al-gufron” (cet. Mesir), “Risalah al-malaikat” (cet. Damaskus), “Majmu
at-al-Rasail” (cet. Kambardaj), “zujru al-nabih” (cet. Damaskus),
selain itu masih banyak dari syi’ir dan prosa.
-
Di antara karangan tentang
al-Ma'arry: “Meneliti Puncak Martabat Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry” oleh
Yusuf al-Bdi'i (cet. Damaskus), “Kejujuran dan Penelitian dalam Menolak
Kedholiman tentang Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry” oleh ibn al-Adim, “Abu
al-‘Alla’” oleh Abu Aziz al-Maimuni (cet. Mesir), “Abu al-‘Alla’ Seorang
Kritikus Muda” oleh Zaky al-Mahasini (cet. Mesir), “Abu al-‘Alla’
al-ma’arrryi” oleh Sami al-Kayali, “Dzikra Abi al-‘Alla’”, “Abi
al-‘Alla’ di Rutan” oleh Toha Husain, “Abu al-‘Alla’ al-Ma'arry”
oleh Ahmad Taymur, “Kembalinya Abi al-‘Alla’” oleh Abas al-‘Aqqad, “Hakim
al-Ma’arrah” oleh DR. Umar Farukh (Beirut), “Kritik dan Bahasa dalam
Risalah al-Gufron” oleh DR. Majid al-Tarablisi (Damaskus), dan “al-Ghufron”
oleh DR.Bint al-Syathi (Darul Ma’arif).
-
Lihat: “Ta’arif
al-Qadamu’ Abi al-‘Alla’” (cet. Mesir), “Mahraj Abi al-‘Alla’ al-Ma'arry”
(cet. Damaskus), dan “Mu’jam al-Udaba” 1: 181, “Amba’ al-Ruwat”
1: 46, “Tatimmah al-Yatimah 90”, “Wafiyat al-A’yan” 1: 94, dan “Ma’ahid
al-Tansis” 1: 136.
[1]
Ma’arrah Nu’man: kota di Suriyah, Luis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughat wa
al-A’lam (Libanon: Dar al-Fikr, cet. XX, 1975), hlm. 674.
[2]
Antakiyah: Sekolah yang mempelajari tafsir al-Kitab, juga nama sebuah kota, al-Munjid, hlm. 80.
[3]
Tripoli: kota
di sebelah Utara Libanon, lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 435.
[4]
ladhikiyah: kota
dan pelabuhan di Suriyah. Lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 607.
[5]
Aleppo: kota
di sebelah Utara Suriyah. Lihat: Luis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 240.
[6]
Umar Faruq, al-Manhaj al-Jadid fi al-Adab al-‘Araby, (Beirut: 1979), juz I, hlm. 278.
[7]
Abd. Ali dan Ali Naim, Masyahiru Syu’ara’, (Beirut: Dar al-Kutuf,
t.t.), hlm. 163.
0 comments: