Biografi Imam Malik

Posted by Gratis Makalah Tuesday, March 27, 2012


Imam Malik yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr al-Haris bin Gaiman bin Husail bin Amr bin al-Haris al-Asbahi al-Madam. Kunyah-nya Abu Abdullah, sedang laqab-nya al-Asbahi, al-Madani, al-Faqih, Imam Dar al-Hijrah, dan al-Humairi.[1]
Seorang ahli fiqih, ahli hadis, dan merupakan pendiri Malikiyah yang memiliki silsilah sampai kepada tabi’in besar (Malik) merupakan salah seorang dari keempat pemandu keranda jenazah Khalifah Usman bin Affan dan kakek buyut (Abu Amir) adalah seorang sahabat senior yang selalu mengikuti peperangan kecuali Perang Badar.[2]
Imam Malik dilahirkan di kota Madinah, dari sepasang suami isteri Anas bin Malik dan Aliyah binti Suraik, bangsa Arab Yaman. Ayah imam Malik seorang tabi'in yang sangat minim informasinya. Dalam buku sejarah hanya mencatat bahwa ayah Imam Malik tingal di suatu tempat bernama Zulmarwah, nama suatu tempat di padang pasir sebelah Utara Madinah dan bekerja sebagai pembuat panah. Sedang kakeknya yang memiliki kunyah Abu Anas adalah tabi'in besar yang banyak meriwayatkan dari Umar, Aisyah, Talhah, Abu Hurairah dan Hasan bin Tsabit, termasuk penulis mushaf Usmani serta termasuk orang yang mengikuti penaklukan Afrika pada Masa Khalifah Usman.[3]
Terdapat perbedaan pendapat tentang kelahirannya di kalangan sejarawan. Ada yang menyatakan 90 H, 93 H, 94 H dan ada pula yang menyatakan 97 H. Tetapi mayoritas sejarawan lebih cenderung menyatak`n beliau lahir tahun 93 H pada masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan dan wafat di Madinah juga dalam usia 87 tahun, setelah menjadi mufti Madinah selama 60 tahun. Dia sakit selama 22 hari dan wafat pada hari ahad tanggal 14 Rabiul Awal tahun 179 H.[4]
Sejak kecil atas dukungan orang tuanya, khususnya ibunya, beliau berguru kepada para ulama di Madinah. Beliau tidak pernah berkelana keluar dari Madinah. Karena, kota Madinah pada masa itu adalah pusat ilmu pengetahuan agama Islam, dan karena di tempat inilah banyak tabi'in yang berguru dari sahabat-sahabat Nabi dan banyak ulama dari berbagai penjuru dunia berdatangan untuk berguru dan bertukar pikiran. Imam Malik pernah belajar kepada 900 guru, 300 diantaranya dari golongan tabi'in dan 600 orang dari kalangan tabi’it tabi'in. Mnr Amin al-Khulli, diantara guru-gurunya yang terkemuka adalah:
1)      Rabi’ah al-Ra’yi bin Abi Abdurrahman Furuh al-Madani (w. 136 H). Rabi’ah adalah guru Imam Malik tentang Ilmu Akhlak, Ilmu Fiqih dan Ilmu Hadits. Ada 12 riwayat hadits yang diriwayatkan, dengan perincian 5 musnad dan 1 mursal.
2)      Ibnu Hurmuz Abu Bakar bin Yazid (w. 140 H). Imam Malik berguru kepada Hurmuz selama 8 tahun dalam Ilmu Kalam, Ilmu I’tiqad dan Ilmu Fiqih. Dan mendapatkan 54-57 hadits darinya.[5]
3)      Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), Imam Malik meriwayatkan 132 hadits darinya, dengan perincian 92 hadits musnad dan lainnya mursal.
4)      Nafi’ bin Surajiz Abdullah al-Jaelani (w. 120 H). Dia adalah pembantu keluarga Abdullah bin Umar dan hidup pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Riwayat Imam Malik darinya adalah riwayat yang paling sahih sanadnya. Imam Malik mendapat 80 hadits lebih dari Nafi’.
5)      Ja’far Shadiq bin Muhammad bin Ali al-Husain bin Abu Thalib al-Madani (w. 148 H), beliau adalah salah seorang imam isna asy’ariyah, ahlul bait dan ulama besar. Imam Malik berguru fiqih dan hadits padanya dan mengambil 9 hadits darinya bab manasik.[6]
6)      Muhammad bin al-Munkadir bin al-Hadiri al-Taimi al-Quraisy (w. 131 H), beliau adalah saudara Rabi’ah al-Ra’yi, ahli fiqih Hijaz dan Madinah, ahli hadits dan seorang qori’ yang tergolong sayyidat al-Qura.
Imam Malik menikah dengan seorang hamba yang melahirkan 3 anak laki-laki (Muhammad, Hammad dan Yahya) dan seorang anak perempuan (Fatimah). Menurut Abu Umar, Fatimah termasuk diantara anak-anaknya yang dengan tekun mempelajari dan hafal dengan baik kitab al-Muwatta’.[7]
Imam Malik memiliki budi pekerti yang luhur, sopan, lemah lembut, suka berderma kepada fakir miskin. Namun di balik kelembutan sikapnya, beliau memiliki kepribadian yang sangat kuat, dan kokoh dalam pendirian. Beberapa hal yang bisa menjadi bukti adalah: pertama, penolakan Imam Malik untuk datang ke tempat penguasa (istana), Khalifah Harun al-Rasyid, dan menjadi guru bagi keluarga mereka. Bagi Imam Malik, semua orang yang membutuhkan ilmu harus datang kepada guru dan ilmu tidak mendatangi muridnya serta tidak perlu secara eksklusif disendirikan, meski mereka adalah penguasa. Kedua, Imam Malik pernah dicambuk 70 kali oleh Gubernur Madinah, Ja’far bin Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas, paman dari Khalifah Ja’far al-Mansur, karena menolak mengikuti pandangan Ja’far bin Sulaiman.[8] Ketiga, meski tiga Khalifah Ja’far al-Mansur (131-163 H), al-Mahdi (163-173 H), dan Harun al-Rasyid (173-197 H) telah meminta Imam Malik menjadikan al-Muwatta’ sebagai kitab resmi negara, namun ketiga kali pula Imam Malik menolak permintaan mereka.
Diantara karya-karya Imam Malik adalah:[9]
1)      Al-Muwatta’
2)      Kitab Aqdiyah
3)      Kitab Nujum, Hisab Madar al-Zaman, Manazil al-Qamar
4)      Kitab Manasik
5)      Kitab Tafsir li Gharib al-Qur'an
6)      Ahkam al-Qur'an
7)      Al-Mudawanah al-Kubra
8)      Tafsir al-Qur'an
9)      Kitab Masa’ Islam
10)  Risalah ibn Matruf Gassan
11)  Risalah ila al-Lais
12)  Risalah ila ibn Wahb
Namun, dari beberapa karya tersebut yang sampai kepada kita hanya dua yakni, al-Muwatta’ dan al-Mudawanah al-Kubra.



[1] Abdul Ghafur Sulaiman al-Bandari, al-Mausu’ah Rijal al-Kutub al-Tis’ah, juz III, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1993), 494
[2] Jalal al-Din al-Suyuti, Muqaddimat Tanwir al-Hawalik Sharh ‘ala Muwatta’ Malik, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), 2
[3] Muhammad bin Alwi, Malik ibn Anas, (Al-Azhar Majma’ al-Buhus al-Islamiyah, 1981), 10
[4] Muhammad Awadah, Malik bin Anas Imam Dar al-Hijarah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992), 5
[5] Amin al-Khulli, Malik bin Anas, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), 65
[6] Muhammad Hamid Husain, Kitab al-Muwatta’, “Muqaddimah”, (Beirut: Dar Kutub al-Islamiyah, t.t), ba’-jim.
[7] Al-Kandahlawi, Aujaz al-Masalih ila Muwatta’ Malik, juz 1, (Beirut: al-Sa’adah, 1973), 20
[8] Moenawar Cholili, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 110
[9] Nurun Naiwah, Studi Kitab Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2003), 6

0 comments:

Post a Comment

Installed by CahayaBiru.com