Pengertian dan Kedudukan Hadits

Posted by Gratis Makalah Friday, March 16, 2012

A.     PENGERTIAN AL- HADITS
Hadits artinya : yang baru, khabaran.
Hadits dalam istilah ahli hadits, ditunjukkan kepada: “khabaran yang berisi ucapan, perbuatan, kelakuan, sifat, atau kebenaran, yang orang katakan dari Nabi SAW, maupun khabaran itu sah dari nabi SAW. Atau tidak.
Hadits disebut juga “ Sunnah”, “ Khabar”, dan “Atsar”.
Tetapi acapkali, yang mengandung sabda Rasulullah SAW. Saja yang dikatakan Hadits.
Hadits  yang menutut pemeriksaan, benar datangnya dari Nabi SAW ulama namakan “Shahih”, atau Sah.
Selain pengertian Hadits diatas Hadits juga dibagi menjadi dua :
1.      Pengertian Hadits Secara Etimologis
Menurut Ibn Manzhur, kata “ Hadits” berasal dari bahasa Arab, yaitu Al- Hadits ,jamaknya Al-Hadits, Al- Haditsan, dan hudtsan.
Secara etimologis, kata ini memiliki arti, di antaranya al-jadid (yang baru) lawan dari al-Qadim (yang lama), dan al-khabar, yang berarti kabar atau berita.
Dalam Al-Qur’an, kata hadits ini digunakan sebanyak 23 kali.
Berikut ini contohnya:
a.       Komunikasi religius: risalah atau Al-Qur’an.
Allah SWT.  Berfirman,
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Artinya: .Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. ( Q.S Az- Zumar: 23)
b.      Kisah tentang suatu watak sekular atau umum.
Allah SWT. Berfirman,
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. Al-An’am: 68)
c.       Kisah historis.
Allah SWT berfirman,
وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى
Artinya:  Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa(Q.S Thaha: 9)
d.      Kisah kontemporer atau percakapan
Allah berfirman:
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ
Artinya: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan Peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan Menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S At- Tahrim: 3)
2.      Pengertian Hadits Secara Terminologi
Secara terminologis, para ulama, baik muhadisin, fuqahah, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian Hadits secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabakan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecendrungan pada aliran ilmu yang didalaminya.
Ulama hadits mendefinisikan hadits sebagai berikut,
كل ما ا ثر عن ا لنبي صلى ا لله عليه و سلم من قو ل او فعل اوتقر ير ا و صفة خلقية او خلقية 

Artinya : Segala sesuatu yang diberitahukan dari Nabi SAW, baik berupa  sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi.

B.     KEDUDUKAN HADITS
Seluruh umat Islam, tanpa kecuali, telah sepakat bahwa hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Ia menempati kedudukannya yang sangat penting setelah Al-Qur’an. Kewajiban mengikuti hadits bagi umat Islam sama wajibnya dengan mengikuti Al-Qur’an. Hal ini karena hadits merupakan Mubayyin terhadap Al-Qur’an. Tanpa memahami dan menguasai Hadits, siapapun tidak akan bisa memahami Al-Qur’an. Sebaliknya, siapapun tidak akan bisa memahami hadits tanpa memahami Al-Qur’an karena Al-Qur’an merupakan dasar hukum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syariat, dan hadits merupakan dasar hukum kedua, yang di dalamnya berisi penjabaran dan penjelasan Al- Qur’an. Dengan demikian, antara hadits dan Al- Qur’an memiliki kaitan yang sangat erat, yang satu sama lain tidak bisa di pisah-pisahkan atau berjalan sendiri-sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, kedudukan hadits dalam Islam tidak dapat diragukan karena terdapat penegasan yang banyak, di dalam Al-Qur’an diuraikan di bawah ini.
1.      Dalil Al- Qur’an
Dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat yang menegaskan tentang kewajiban mengikuti Allah yang digandengkan dengan ketaatan mengikuti Rasul-Nya, seperti firman Allah berikut ini:
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Artinya: Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (Q.S Ali Imran: 32)

2.      Dalil Hadits Rasulullah SAW.
Disamping banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban mengikuti semua yang di sampaikan Nabi SAW., banyak juga hadits Nabi SAW., yang menegaskan kewajiban mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi   SAW., seperti sabda Rasulullah SAW., sebagai berikut:
تر كت فيكم امرين لن تضلواابداماان تمسكتم بهما كتا ب ا لله وسنة رسو له
Artinya: Aku tinggalkan dua pusaka pada kalian. Jika kalian berpegang kepada keduannya, niscaya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah (Al- Qur’an) dan sunnah Rasul- Nya. (H.R. Al- Hakim dari Abu Hurairah)
3.      Ijma’
Seluruh umat Islam telah sepakat untuk mengamalkan hadits. Bahkan , hal itu mereka anggap sejalan dengan memenuhi panggilan Allah SWT. Dan Rasul- Nya yang terpercaya. Kaum muslimin menerima hadits seperti menerima Al-Qur’an Al- karim karena berdasarkan penegasan dari Allah SWT, bahwa hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Allah jaga memberikan kesaksian bagi Rasullah, SAW. Bahwa beliau hanya mengikuti apa yang diwahyukan.
Allah Berfirman :
قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:   Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"(Q.S. Al-An’am: 50).


Referensi :
A. Qadir Hassan, Ilmu Mushthalah Hadits, Bandung : Diponogoro, 2007.
M. Agus Solahudin, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2009.

0 comments:

Post a Comment

Installed by CahayaBiru.com